Hadiah Terindah Untuk Bumi



             Aku yakin kalau bicara soal sampah, hal utama yang terlintas dalam pikiran kita adalah sampah plastik, karena kita sudah terjebak dalam stereotipe bahwa "sampah adalah plastik". Bahkan, ketika terdapat gerakan untuk mencintai lingkungan atau menjaga bumi pun, otak kita seakan akan berbicara "aku perlu meninggalkan penggunaan plastik". Perlu diingat yaa bahwa sampah yang kita hasilkan sehari-hari tidak hanya sampah makanan dan plastik saja loh, pakaianmu pun termasuk dalam kategori "sampah" jika kamu hanya membeli dan sesekali saja menggunakannya. Salah satu hal yang menjadi kebutuhan sehari-hari kita dan selalu melakukan perubahan setiap waktu adalah pakaian, sebuah pakaian normalnya rata-rata digunakan oleh penggunanya 40x - 45x sebelum dibuang.

                Sadar ngga sih kalau kita itu sudah terpapar fenomena fast fashion, dimana kita selalu berusaha untuk membeli jenis pakaian dengan model terbaru untuk mengikuti trend yang sedang berjalan. Padahal, kebanyakan model pakaian yang kita beli pun tidak terlalu berbeda jauh, toh manfaatnya juga sama dengan pakaian kita yang ada di lemari. Dengan perilaku impulse buying ini, industri pakaian pun semakin berlomba-lomba untuk memproduksi pakaian sesuai keinginan pasar. Semakin banyak industri pakaian yang menciptakan, maka semakin banyak pula limbah tekstil yang dihasilkan. Lalu, kemana perginya limbah tekstil tersebut? apakah tidak berbahaya bagi bumi kita?

                Tidak dapat dipungkiri bahwa limbah tekstil merupakan penyumbang limbah terbesar kedua di dunia setelah minyak. Limbah tekstil menyumbang porsi sebesar 10% dari total keseluruhan emisi karbon di dunia. Di tahun 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan adanya pencemaran air di sungai Citarum, Bandung. Pencemaran ini berasal dari pewarna tekstil berbahaya yang dibuang pihak pabrik tekstil tanpa pengolahan. Padahal, sungai Citarum merupakan sumber air minum untuk 27,5 juta penduduk Jawa Barat. Ini baru pencemaran air, belum lagi jika kita bicara berapa banyak bagian dari bahan dasar pakaian yang tidak digunakan dalam proses produksi pakaian? Biasanya 15% dari bahan yang tidak terpakai dalam sebuah produksi pakaian hanya akan berakhir menjadi kain sisa dan menumpuk di tempat pembuangan sampah. 

                Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari tingkat ekosistem, tingkat spesies, dan tingkat gen. Kebutuhan sandang merupakan salah satu manfaat yang didapat dari adanya keanekaragaman hayati di bumi kita. Pabrik-pabrik tekstil di Indonesia pun turut memanfaatkan keanekaragaman hayati ini untuk kepentingan kebutuhan sandang masyarakat, namun tidak jarang pula proses pemanfaatan ini menimbulkan adanya potensi pencemaran sungai yang juga merupakan keanekaragaman hayati bumi. Penjagaan terhadap keanekaragaman hayati bumi kita harus dilakukan dengan cara yang cerdas. Nah, apa sih yang bisa kita lakukan untuk mencegah adanya potensi pencemaran air dan jumlah limbah yang dihasilkan dari industri tekstil untuk masa depan yang lebih baik? Ingat ya dengan catatan bahwa kita tetap bisa menjadi individu yang fashionable namun tetap menjalankan misi kemanusiaan dan pelestarian lingkungan. 
               
                Secara tidak sadar, ternyata aku pun sudah melakukan hal ini, hal paling utama dari upaya pencegahan tersebut adalah dengan meningkatkan rasa kepedulian kepada apa yang akan aku beli. Aku yakin akan sangat sulit bagi kita, terutama perempuan untuk menentukan dalam waktu singkat pakaian model seperti apa, warna apa, dan bahan apa yang akan dipilih untuk menjadi koleksi pakaian kita selanjutnya. Sejak bisa menyisihkan uang untuk berbelanja sendiri, aku memutuskan untuk harus bisa membeli pakaian dengan cerdas, jangan hanya karena lucu aku jadi merasa punya kewajiban untuk membelinya. Hal yang biasa aku perhatiin ketika berbelanja sih dari segi manfaat ya, pertimbangkan sekali lagi kira-kira aku butuh ngga sih beli baju itu? atau apa mungkin karena aku ngga beli baju itu aku ngga akan bisa keluar rumah? Nah kalo jawabannya adalah "tidak" berarti aku punya alasan yang kuat untuk tidak membeli baju itu.

                Oke sekarang kita pulang ke rumah ya, kita buka lemari, ada berapa tumpukan baju disana? Banyaknya jumlah baju yang jarang atau bahkan tidak digunakan sama sekali ini hanya memenuhi lemari aja, kita hanya mengoleksi tumpukan sampah tekstil di dalam lemari kita sendiri. Nah untuk ini aku mengatasinya dengan cara memilah baju-baju berdasarkan intensitas penggunannya, atau sering disebut dengan decluttering. Baju-baju yang jarang aku pakai aku kumpulkan untuk selanjutnya didonasikan kepada yang membutuhkan. Sekarang aku punya kelompok baju dalam jumlah terbatas untuk digunakan, dan semakin mudah untuk memilihnya. 

                Dengan cara ini, aku pun berpotensi untuk menggunakan pakaian yang itu itu saja, dan tidak sedikit yang memberi komentar kalau baju aku itu itu aja yang dipakai "kaya ngga ada baju lain aja". Nah untuk menghindari komentar orang orang sejenis nih, kita bisa mix & match baju-baju yang kita punya. Langkah ini tuh bener bener berguna banget sih, karena kita akan selalu terlihat berbeda walaupun menggunakan model pakaian yang sama. Tetapi, jujur sih cara ini tuh juga lama kelamaan bikin aku bosan dengan model pakaian yang aku pakai, karena aku bukan orang yang minimalis minimalis banget. Terkadang, aku juga suka melakukan langkah "clothing swap", yaitu menukar baju yang kita punya dengan baju orang lain dari model yang berbeda. Eits clothing swap ngga cuman bisa kita lakuin saat ada event yaa, kebetulan aku memiliki 3 saudara kandung perempuan, dan ukuran tubuh kami tidak terlalu jauh. Menurut aku sih ini sebuah keberentungan yang hakiki yaa hehe karena dengan adanya mereka, aku jauh lebih banyak memiliki macam model pakaian yang bisa aku pakai. Ngga cuman aku, mereka pun juga sering meminjam baju-bajuku untuk meminimalisir jumlah pakaian dan mencegah tumpukan limbah tekstil di rumah kami. 

   


                Lalu apa dong solusinya kalau kita tidak punya saudara satu ukuran pakaian? Hei, jangan khawatir karena kita bisa kembali ke langkah awal yaitu membeli dengan cerdas. Tetapi kali ini tidak membeli pakaian baru ya, tapi dengan konsep thrifting atau membeli pakaian secondhand, barang rejected, atau lebih bekennya sih dikenal dengan barang preloved. Konsep ini favorit aku banget, selain harganya yang cenderung lebih murah, barang barang yang dijual pun ngga kalah keren kalau kita cerdas memilih. Jangan pernah malu ya untuk membeli barang secondhand yang selalu dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat ini. Dengan membeli pakaian bekas pakai (reuse), aku tetap bisa belanja tanpa khawatir adanya pencemaran dan penumpukan limbah tekstil, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Semakin sedikit kamu membeli barang baru, maka semakin sedikit pula resiko sampah yang dihasilkan. Ohiya, jangan lupa ya untuk selalu memperhatikan kebersihan secondhand item ini, setelah membelinya biasanya aku rendam terlebih dahulu di air panas untuk menghilangkan kuman yang menempel. Ini hasil thrifting akuu... 


                Terus apa hubungannya sih meminimalisir limbah pakaian dengan pelestarian lingkungan juga keanekaragaman hayati di dalamnya? Ya jelas sangat berhubungan dong, coba bayangkan berapa banyak sampah yang akan dihasilkan dari produksi sebuah pakaian? Berapa banyak air yang digunakan dalam produksi sebuah pakaian? Berapa banyak sungai yang tercemar oleh limbah pabrik tekstil yang dibuang sembarangan ke sungai / laut tanpa pengolahan? Berapa banyak bahan / kain yang tersisa dan tidak dapat digunakan kembali dari sebuah pakaian? Bisa-bisa Bumi kita berada dibawah tekanan ancaman para penghuninya.

                Jangan takut juga kalau dihujat dengan sebutan “SJW” atau Social Justice Warrior, itu loh istilah yang digunakan oleh kaum milenial untuk menyebut seseorang atau kelompok yang menyuarakan pandangannya terkait isu-isu khusus, terutama lingkungan. Aku melakukan langkah-langkah cerdas diatas untuk tetap menjaga keanekaragaman hayati di atas bumi, karena tidak ada lagi yang bisa kita hadiahkan kepada bumi selain menjaga keanekaragaman hayati di dalamnya. Hal ini juga aku lakukan demi keberlangsungan hidup bumi serta generasi mendatang yang berperan sebagai makhluk hidup yang akan menginjakkan kaki di atas bumi ini. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak melakukannya, terus mencari tahu, mengedukasi, dan konsisten dengan langkah yang kita ambil itu penting.

                Ohiya selain langkah yang aku lakukan, kalian juga bisa mencari informasi terkait pelestarian lingkungan pada llink https://www.msig.co.id/en/csr-activity/activity yang banyak dicanangkan oleh PT. Maskapai Asuransi Indonesia (MSIG), sebuah Lembaga asuransi yang memberikan ganti rugi atas kerusakan atau kerugian harta benda. Salah satu program MSIG adalah berkontribusi pada pengembangan masyarakat dengan memberikan rasa aman bagi generasi mendatang dan buminya di masa depan. Proses penyelarasan kegiatan perusahaan dengan kepentingan dunia merupakan kunci. Aku sangat bangga dengan individu yang mengupayakan langkah cerdasnya sebagai hadiah terindah untuk Bumi, selamat tumbuh dan berkembang bersama Bum. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

sebuah kenangan

Trip Liburan Gontor Yogyakarta ( 1 )

Cara Upload Foto / Video Lewat PC