Apa Cinta Hanya Ada Saat Belum Memilikinya
gua udah ngga mood lagi buat nerusin blog travel itu masa :( berhubung gua pernah baca blog ini, gua suka, gua cinta, gua sayang, tapi ngga sampe jadian dan gua share aja disini ya bang alit.
Gue yakin,
elo pasti lebih inget orang yang pernah lo cintai, tapi akhirnya malah
menyakiti, dibanding pasangan yang pernah sama-sama selalu mencintai
sampai bosan sendiri.
Kenapa gue
bilang gitu? Akhir-akhir ini gue kepikiran, lagu-lagu bertema patah hati
itu selalu lebih meledak dibandingkan lagu-lagu yang menceritakan
indahnya jatuh cinta. Lagu yang membahas tentang cinta yang terkhianati,
lagu yang membahas tentang cinta yang tak terungkapkan, maupun lagu
yang membahas tentang cinta yang tak bisa dimiliki, memiliki kekuatan
yang lebih “nonjok” dibandingkan lagu-lagu yang membahas tentang hati
yang berbunga-bunga.
Hal itu
beralasan. Orang itu lebih ekspresif saat mereka sedang sakit hati.
Orang itu lebih sensitif saat mereka sedang terluka hati. Dan orang itu
akan lebih mengingat detil orang yang menyakitinya dibanding orang yang
membahagiakannya. Di postingan kali ini, gue mau ngajakin lo buat
melihat cinta, dari sudut pandang berbeda. Iya, cinta itu benar-benar
terasa, saat kita tidak sedang memilikinya. Itu yang gue pahami. Dan
pemahaman semacam itu, datang dari pengalaman yang pernah gue jalani.
Begini ceritanya..
yang dibawah ini kisahnya bang alit, bukan kisah gua, karena alhamdulillah gua sukanya sama cowo bukan cewe :
Gue inget,
beberapa tahun yang lalu, gue suka sama seorang cewek, bernama Ria.
Cewek itu sekampus sama gue, sejurusan juga, namun kita tidak
seperasaan. Ria ini adalah cewek berwajah adem kejawa-jawaan. Tiap dia
ngomong, terasa lembut di hati. Menurut gue, Hitler pun kalo denger dia
ngomong, pasti bakal jadi orang yang baik, dan nggak bunuh-bunuhin
Yahudi lagi. Rambut Ria berwarna hitam, panjang, lurus sepundak.
Kulitnya terlalu putih untuk ukuran cewek Jawa. Bibirnya merah, tanpa
lipstick, dan parfumnya tak pernah ganti, Bvlgari Jasmin Noir. Dia nggak
pernah ngasih tau merk parfumnya, tapi gue sering merhatiin dia kalo
lagi nyemprotin parfum itu ke lehernya. Pertama kali gue ketemu dia
adalah saat gue harus ke rental printer pagi-pagi. Kebetulan rental itu
ada di dekat kosannya. Dan pertama jalan kaki bareng dia menuju kampus
itu, mengubah hari-hari ngampus gue selanjutnya.
Kosan Ria
ada di belakang kampus, sedangkan kosan gue ada di depan kampus. Setiap
pagi, gue sengaja berangkat ngampus 15 menit lebih awal, biar bisa jalan
kaki bareng dia. Iya, gue harus muterin setengah bangunan kampus yang
ukurannya segede kampung halaman gue itu, hanya untuk bisa jalan bareng
Ria. Tapi Ria tidak tahu kost gue di mana, yang dia tahu, kami jalan
karena tujuannya searah. Iya, 10 menit jalan kaki bareng dia adalah 10
menit terindah dalam hari-hari gue. 10 menit yang mampu membuat gue
selalu bisa bangun lebih pagi. 10 menit yang selalu gue pikirin setiap
menjelang tidur di malam hari. Apakah setiap pagi jalan kaki
mondar-mandir itu melelahkan buat gue? Nggak. Rasa lelah itu tertutup
rapat oleh rasa bahagia karena bisa ngobrol dan jalan bareng dia. Gue
nggak bisa ngerasa capek untuk mencintai, karena cinta itu memberikan
energi tersendiri. Lihatlah hidup orang-orang yang tanpa cinta. Tak ada
gairah, tak ada usaha, tak ada tenaga.
Kembali
kepada topik si Ria. Pernah suatu ketika, gue jalan kaki seperti
biasanya, lalu melambatkan langkah saat gue melewati depan kost si Ria.
Gue lihat, pagi itu Ria tak kunjung tiba. Gue nggak bisa nanya Ria di
mana, karena gue nggak pernah berani meminta nomor handphonenya. Gue
lihat jauh ke depan, Ria juga tak terlihat di ujung jalan sana. Gue
sengaja melangkah lebih lambat, agar nanti kalau Ria ternyata memang
telat, dia bisa menyusul gue di jalan. Tapi 10 menit melewati jam kuliah
dimulai pun, gue nggak berpapasan dengan si Ria. Bahkan sesampainya di
ruang kelas, gue juga nggak menemukan si Ria.
Gue tanyain
ke Dini, sahabat Ria, ke manakah gerangan si Ria berada? Dini
mengatakan bahwa Ria sedang sakit, demam tinggi membuat Ria jadi dia
absen hari itu. Selepas kuliah pertama, gue langsung pergi dari kampus,
lalu mampir ke minimarket sebelah. Gue inget banget, gue adalah orang
yang sangat ketat dengan pengaturan finansial. Zaman itu, gue jatah diri
gue sendiri uang 30 ribu/hari untuk makan. Dan hari itu, gue memutuskan
untuk memberikan hal yang berguna untuk kesembuhan si Ria. Gue membeli
obat penurun panas, dan Redoxon, lalu duit gue tinggal tersisa 2 ribu
rupiah. Uang sisa segitu, gue beliin mie instant buat jatah makan
seharian.
Gue
berjalan dengan penuh semangat ke kost si Ria, lalu membayangkan bahwa
dia akan sangat bahagia dengan apa yang gue bawa buat dia. Tapi semangat
itu memudar seketika bersamaan dengan apa yang gue lihat di teras
kostnya. Ria sedang disuapin oleh seorang cowok seumuran kita. Pucatnya,
tak menutupi kecantikannya. Serak di tenggorokannya, tak mengurangi
kemerduan suaranya, saat bilang “pelan-pelan aja ya..” kepada cowok yang
menyuapinya.
Pemandangan
di depan gue emang sempat membuat gue gentar. Tapi apa yang udah gue
bawa, nggak boleh sia-sia. Gue tetap memberanikan diri untuk mendekat,
dan menyerahkan obat-obatan yang gue beli untuk Ria. Ria terlihat senang
dengan apa yang gue bawa. Cowok yang menyuapinya juga mengucapkan
terima kasih untuk apa yang gue lakukan untuk Ria. Lalu dia
memperkenalkan dirinya, namanya Reno, gebetan Ria.
Sesaat
setelah gue berbasa-basi dan terlihat baik-baik saja, gue segera pamit
undur diri dari kost si Ria. Gue berjalan kaki menuju kost gue, sambil
memakan mie instan mentah yang diremukin. Seremuk hati gue yang
diremukin fakta bahwa Ria sudah memiliki orang yang dicinta.
Setelah
kejadian itu, gue jadi manusia yang paling melankolis di dunia. Gue
selalu melihat sisi gelap dunia. Ketidakadilan dunia, kekejaman cinta,
kehancuran hati gue, semua berlalu lalang di dalam kepala. Segala
keceriaan dunia seakan musnah begitu saja. Gue ciptakan puluhan puisi
yang menyayat hati, gue ciptakan lagu-lagu yang mampu menyihir hati
hingga beku, gue lukis warna-warna mati semati harapan gue untuk
memiliki Ria. Itu adalah waktu yang sangat kelam namun tak terlupakan
buat gue.
Beberapa
minggu setelah kejadian itu, gue udah terbiasa berjalan kaki sendirian
dari kost langsung ke kampus, tanpa perlu muter melewati kost Ria lagi.
Gue nggak marah sama Ria, gue cuma merasa, gue nggak layak memperlakukan
hal spesial lagi untuk dia. Karena gue sadar, sudah ada orang lain yang
bertanggung jawab atas hal-hal itu untuk dia.
Di kampus,
gue bertemu Ria. Senyumnya tidak berbeda, masih seindah biasanya.
Senyumnya masih dengan mudah meluruhkan amarah. Tawanya, bisa sekejap
menghapuskan segala dendam yang ada.
“Alitt!! Jahat banget sih?!” Tanya dia mendadak membuat gue bingung.
“Ha? Jahat gimana?”
“Pindah
kosan kok nggak bilang?” Ria mencubit pipi gue. Bukan sakit yang gue
rasakan saat itu. Aneh, yang dicubit itu pipi, tapi kenapa yang terasa
nyeri malah hati?
“Pindah kosan? Pindah ke mana?” Gue bingung karena gue nggak merasa pindah kost.
“Loh? Kamu nggak pindah? Kok kita nggak pernah ketemu di jalan lagi?”
Pertanyaan
Ria membuat gue terdiam beberapa saat. Bingung untuk menjelaskan bahwa
selama ini gue sengaja jalan muter-muter cuma agar bisa jalan kaki
bareng dia.
“Kosanku dari dulu memang di depan kampus itu kok. Yang cat biru itu.” Akhirnya kalimat itu tercetus juga.
Ria terlihat bengong, dia gigit bibirnya, matanya layu, layaknya kucing lapar yang berharap untuk dilempar ikan kerapu.
“Jadi.. Selama ini…” Ria sepertinya sengaja tak menyelesaikan kalimatnya.
“Iya.” Gue tersenyum penuh makna, sambil menatap matanya dalam-dalam.
Ria lalu duduk di kursi kelasnya, dengan tatapan kosong. Ria melewati kuliah hari itu dengan tatapan kosong yang sama.
Sepulang kuliah, Ria menghampiri gue. Dengan ramah, dia menepuk pundak gue.
“Balik bareng yuk!”
“Tapi..” Gue mau bilang, kalo jalan pulang kita nggak searah.
“Aku cuma mau lihat kosanmu di mana. Hehe.. kalo boleh..”
“Baik..”
Kita berdua
jalan keluar dari kampus, gue sempetin buat beli cilok buat dimakan
berdua sepanjang jalan. Kami mengobrol panjang sambil tertawa-tawa,
sampai depan kosan gue.
Di depan kosan, Ria berpamitan.
“Oh.. Ini kosanmu.. Jauh juga yah, kalo harus muter dulu ke belakang kampus. Hehe..”
“Hehe..” Gue tersenyum kaku. Seakan-akan ada behel yang dipasang di bibir gue.
Sejak hari
itu, setiap pagi Ria yang menghampiri, dan menunggu gue di depan kosan.
Lalu kita jalan ke kampus barengan. Itu rute yang lebih wajar, karena
setiap Ria mau ngampus, dia memang melewati kosan gue. Dibanding gue
yang harus muter ke belakang kampus dulu, cuma agar bisa jalan kaki
bareng dia mulu.
Sebulan
kemudian, gue dan Ria jadian. Ria mengatakan bahwa dia tidak bisa
menerima Reno, karena Reno tidak tinggal di kota yang sama. Ria trauma
dengan LDR, dia tidak mau memberi harapan kepada Reno. Saat baru
memiliki Ria, adalah saat yang membuat gue sangat bahagia. Akhirnya,
segala perjuangan gue sebelumnya, berbuah manis juga.
Tapi
kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Di mana cinta, berubah menjadi
kewajiban, bukan lagi hal yang dijalani dengan ketulusan. Di mana gue
harus selalu menuruti permintaan Ria untuk menemani dia pulang-pergi
ngampus, baca-baca buku di perpus, dan nungguin dia perawatan di salon
berjam-jam sampe gue bosen mampus.
Memiliki
Ria ternyata tidak seindah zaman gue belum memilikinya. Zaman di mana
karakternya masih dibatasi imajinasi gue aja. Zaman di mana dia belum
menunjukkan sisi-sisi gelapnya. Zaman di mana gue nggak dipaksa untuk
makan-makanan yang dia baru coba masak, hingga membuat gue 3 hari
berak-berak. Gue nggak boleh protes, karena gue nggak boleh
mengecewakannya, karena membuat dia selalu bahagia adalah kewajiban.
Ah!!
Belum lagi
sifat posesif dia yang ternyata berbahaya. Di mana, gue ngobrol sama
temen sekelas yang cewek aja bisa membuat dia ngambek dan diemin gue
seminggu lamanya. Di mana gue harus membiarkan dia mengobok-obok inbox
SMS hape gue buat memastikan bahwa gue nggak ngedeketin cewek lain.
Gue nggak
bisa protes, karena gue cinta. Meskipun gue capek, dan mulai nyadar
bahwa cinta yang sudah menjadi kewajiban itu ternyata menyebalkan. Gue
harus menerima dia apa adanya. Gue harus selalu berusaha membahagiakan
dia. Gue harus bisa menjadi seperti yang dia minta, meski gue nggak
nyaman menjalaninya. Melelahkan juga.
Gue coba
buka-buka lagi puisi, lagu, lukisan, yang pernah gue buat untuk Ria saat
gue patah hati olehnya dulu. Di titik itu, gue nyadar. Api asmara itu
justru ada di saat kita tidak saling memiliki. Di saat kita hanya
melihat indahnya si dia. Di saat kita bisa dengan tulus memaklumi segala
kekurangannya. Cinta sejati itu tumbuh dari rasa sakit. Iya, orang yang
bisa benar-benar menyakiti kita, cuma orang yang benar-benar kita
cinta. Mungkin elo bakal santai aja, kalo lo dicuekin oleh orang yang
nggak lo suka. Tapi lo bisa galau berbulan-bulan saat lo dicuekin
gebetan, kan?
Dan akhirnya, gue dikalahkan oleh rasa bosan.
Bosan terhadap segala kekurangan Ria, bosan untuk selalu memakluminya.
Iya, waktu itu gue emang belum dewasa dalam mencinta. Akhirnya, kami pun
sepakat untuk memutuskan hubungan cinta. Anehnya, beberapa saat setelah
kami berpisah, gue kembali bergairah. Rasa cinta kembali tumbuh, rasa
rindu kembali menggebu. Gue kembali pengin memperjuangkan cinta si Ria.
Maunya hati ini apa sih? Kampret, kan?
Mau diterima atau tidak, begitulah pilihan yang diberikan oleh cinta. Selalu mencintai orang yang tak pernah bisa kita miliki, atau Memiliki orang yang tak kita cintai. Tapi yang jelas, cinta itu adalah yang mampu memberimu energi dan gairah. Cinta itu yang bisa membuatmu selalu gelisah. Cinta itu yang bisa menggerakkan hatimu hingga kamu bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Dan saat kamu tak lagi bergairah, tak bersemangat, dan tak tulus lagi berkorban untuk dia, itu adalah tanda bahwa cinta sudah tak bersemayam di sana.
Mau diterima atau tidak, begitulah pilihan yang diberikan oleh cinta. Selalu mencintai orang yang tak pernah bisa kita miliki, atau Memiliki orang yang tak kita cintai. Tapi yang jelas, cinta itu adalah yang mampu memberimu energi dan gairah. Cinta itu yang bisa membuatmu selalu gelisah. Cinta itu yang bisa menggerakkan hatimu hingga kamu bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Dan saat kamu tak lagi bergairah, tak bersemangat, dan tak tulus lagi berkorban untuk dia, itu adalah tanda bahwa cinta sudah tak bersemayam di sana.
Don’t get
in a relationship with the one you don’t love. Sacrificing is hard, if
it’s not for the one you love. But it’ll be easy if you do it for the
one you really love. Hubungan, baik itu pacaran maupun pernikahan, bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam keputusasaan. So, setelah baca tulisan ini, apa lo masih berani memiliki orang yang lo cintai?
Based on : www.shitlicious.com
makasi bang alit tulisan blognya :"""""""

Komentar
Posting Komentar