Dari Mereka yang Sedang Menunggu
Jika ada penghargaan
untuk kegiatan paling menyiksa di dunia ini, maka pemenangnya adalah
menunggu. Ya, menunggu akan menjadi jawara berturut-turut selama
berwindu-windu.
Ini adalah
surat-surat dalam paragraf, dari mereka yang sedang menunggu.
Menunggu seseorang
untuk sadar. Tidak peduli berapa kali pun aku muncul di hadapanmu,
aku berakhir hanya menjadi bayangan. Setiap denyut detik yang aku habiskan
hanya untuk menerka apakah sebenarnya kamu menyadariku atau
tidak.
Bahagiaku terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja bertukar
tatap. Namun sedihku terlampau lasuh, cukup karena tak bertemu
denganmu di waktu dan tempat biasanya kauhadir. Aku tak sedang menunggumu untuk
sadar, kau sudah sadar. Aku pun sadar, nahasnya kau dengan sadar tak
menyadariku.
Menunggu
jawaban. Ada alasan mengapa sesosok hantu bisa penasaran, ada sesuatu yang
tertinggal. Tanda tanya yang besar dan berjumlah jutaan menggantung di pikiran.
Semuanya menanti jawaban. Jawaban yang bahkan waktu tak bisa menjawabnya
jika bukan dengan bantuanmu. Hanya kamu, yang bisa memberikan jawaban. Namun
meski kamu bisa, sayangnya kamu tak mau.
Menunggu kamu
mengerti. Kita selalu berujung pada mencari siapa yang salah.
Lalu semua berakhir dengan aku yang mengalah. Rasa ini hanya aku yang
mengerti. Yang kamu yakini, kamulah yang benar sendiri. Mengerti bukanlah
pekerjaan yang mudah. Akan tetapi setidaknya, aku berusaha.
Menunggu yang tak
pasti. Aku berjalan menujumu, kamu berlari menujunya. Aku menunggu kau
sendiri kembali, yang entah harus berapa tahun cahaya. Namun ketika waktunya
datang, secepat kilatan cahaya pula kau kembali sudah ada yang punya. Lalu aku
menunggu lagi. Dan lagi. Satu pertanyaan yang paling aku kesalkan,
“Mengapa kamu terus bertahan bersama dia? Mengapa tidak denganku?” Lalu aku
tersadar dengan jawaban yang terhembus dari angin di malam ini, “… Karena
kau cuma menunggu.”
Menunggu kembali.
Semua yang pergi tak bisa dengan mudah begitu saja kembali. Terutama jika
yang pergi adalah karena kesalahan sendiri. Tak ada objek yang bisa disalahkan
selain diri. Memutar waktu pun mustahil karena hidup bukanlah film fiksi.
Satu hal yang aku ketahui, sedetik setelah kamu pergi aku hidup dalam
bayang-bayang depresi.
Menunggu cinta
sejati. Sebagian orang, terlalu tak sabaran untuk bertemu orang yang tepat.
Padahal, sesuatu yang indah tidak pernah datang dengan mudah. Cinta sejati
butuh patah hati. Orang itu tak akan dikatakan orang yang tepat jika tak
muncul di waktu yang tepat. Mungkin, bukan sekarang. Setiap kali aku ingin
berteriak dan bertanya “Tapi kapan?”, aku harus menahannya, lalu menghela napas
panjang, tersenyum, dan fokuskan memperbaiki kualitas diri. Orang yang tepat
hanya akan datang ke kehidupan orang yang tepat pula baginya.
Tepatkah kamu
bagi dia yang tepat?
sayangnya aku bukan orang yang berani untuk melakukan "perjuangan" yang kata orang berakhir indah itu
based on : Dara Prayoga Wordpress
Komentar
Posting Komentar